عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مُسَدَّدٌ
خَطَبَ يَوْمَ الْفَتْحِ بِمَكَّةَ فَكَبَّرَ ثَلَاثًا ثُمَّ قَالَ لَا
إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ
وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ إِلَى هَاهُنَا حَفِظْتُهُ عَنْ مُسَدَّدٍ
ثُمَّ اتَّفَقَا أَلَا إِنَّ كُلَّ مَأْثُرَةٍ كَانَتْ فِي الْجَاهِلِيَّةِ
تُذْكَرُ وَتُدْعَى مِنْ دَمٍ أَوْ مَالٍ تَحْتَ قَدَمَيَّ إِلَّا مَا
كَانَ مِنْ سِقَايَةِ الْحَاجِّ وَسِدَانَةِ الْبَيْتِ ثُمَّ قَالَ أَلَا
إِنَّ دِيَةَ الْخَطَإِ شِبْهِ الْعَمْدِ مَا كَانَ بِالسَّوْطِ وَالْعَصَا
مِائَةٌ مِنْ الْإِبِلِ مِنْهَا أَرْبَعُونَ فِي بُطُونِ أَوْلَادِهَا
4547. Dari Abdullah bin 'Amr bahwa Rasulullah SAW berkhutbah pada hari penaklukkan kota Makkah (fathu Makkah), bertakbir tiga kali, kemudian bersabda, "Tiada
Tuhan selain Allah yang Maha Esa, Maha Benar janji-Nya serta Yang
Mengalahkan sekutu sendirian. Ketahuilah bahwa setiap peninggalan di
zaman Jahiliyah yang dihasilkan dan didapat —dari diyat pembunuhan atau pencurian— berada
di bawah kedua telapak kakiku, kecuali apa-apa yang dihasilkan dari
memberi minum para jemaah haji dan pengabdian pada Ka'bah." Kemudian
beliau bersabda lagi, "Ketahuilah bahwa diyat pembunuhan yang tidak
disengaja yang "semi sengaja" dihukum dengan memakai tongkat atau pecut,
yaitu seratus unta, di antaranya empat puluh ada yang sedang hamil." Hasan: Ibnu Majah (2628)
عَنْ أَبِي عِيَاضٍ عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ وَزَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ فِي
الْمُغَلَّظَةِ أَرْبَعُونَ جَذَعَةً خَلِفَةً وَثَلَاثُونَ حِقَّةً
وَثَلَاثُونَ بَنَاتِ لَبُونٍ وَفِي الْخَطَإِ ثَلَاثُونَ حِقَّةً
وَثَلَاثُونَ بَنَاتِ لَبُونٍ وَعِشْرُونَ بَنُو لَبُونٍ ذُكُورٌ
وَعِشْرُونَ بَنَاتِ مَخَاضٍ
4554. Dari Abu lyadh, dari Utsman bin Affan dan Zaid bin Tsabit tentang diyat pembunuhan karena permusuhan (Mughallazhah) adalah empat puluh jaza 'ah dan tiga puluh hiqqah, tiga puluh bintu labun. Adapun diyat pembunuhan tidak disengaja adalah tiga puluh hiqqah, tiga puluh bintu labun dan dua puluh ibnu labun serta dua puluh bintu makhadh. Shahih.
عَنْ
سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ فِي الدِّيَةِ
الْمُغَلَّظَةِ فَذَكَرَ مِثْلَهُ سَوَاءً قَالَ أَبُو دَاوُد قَالَ أَبُو
عُبَيْدٍ وَغَيْرُ وَاحِدٍ إِذَا دَخَلَتْ النَّاقَةُ فِي السَّنَةِ
الرَّابِعَةِ فَهُوَ حِقٌّ وَالْأُنْثَى حِقَّةٌ لِأَنَّهُ يَسْتَحِقُّ
أَنْ يُحْمَلَ عَلَيْهِ وَيُرْكَبَ فَإِذَا دَخَلَ فِي الْخَامِسَةِ فَهُوَ
جَذَعٌ وَجَذَعَةٌ فَإِذَا دَخَلَ فِي السَّادِسَةِ وَأَلْقَى ثَنِيَّتَهُ
فَهُوَ ثَنِيٌّ وَثَنِيَّةٌ فَإِذَا دَخَلَ فِي السَّابِعَةِ فَهُوَ
رَبَاعٌ وَرَبَاعِيَةٌ فَإِذَا دَخَلَ فِي الثَّامِنَةِ وَأَلْقَى السِّنَّ
الَّذِي بَعْدَ الرَّبَاعِيَةِ فَهُوَ سَدِيسٌ وَسَدَسٌ فَإِذَا دَخَلَ
فِي التَّاسِعَةِ وَفَطَرَ نَابُهُ وَطَلَعَ فَهُوَ بَازِلٌ فَإِذَا دَخَلَ
فِي الْعَاشِرَةِ فَهُوَ مُخْلِفٌ ثُمَّ لَيْسَ لَهُ اسْمٌ وَلَكِنْ
يُقَالُ بَازِلُ عَامٍ وَبَازِلُ عَامَيْنِ وَمُخْلِفُ عَامٍ وَمُخْلِفُ
عَامَيْنِ إِلَى مَا زَادَ وَقَالَ النَّضْرُ بْنُ شُمَيْلٍ ابْنَةُ
مَخَاضٍ لِسَنَةٍ وَابْنَةُ لَبُونٍ لِسَنَتَيْنِ وَحِقَّةٌ لِثَلَاثٍ
وَجَذَعَةٌ لِأَرْبَعٍ وَثَنِيٌّ لَخَمْسٍ وَرَبَاعٌ لِسِتٍّ وَسَدِيسٌ
لِسَبْعٍ وَبَازِلٌ لِثَمَانٍ قَالَ أَبُو دَاوُد قَالَ أَبُو حَاتِمٍ
وَالْأَصْمَعِيُّ وَالْجُذُوعَةُ وَقْتٌ وَلَيْسَ بِسِنٍّ قَالَ أَبُو
حَاتِمٍ قَالَ بَعْضُهُمْ فَإِذَا أَلْقَى رَبَاعِيَتَهُ فَهُوَ رَبَاعٌ
وَإِذَا أَلْقَى ثَنِيَّتَهُ فَهُوَ ثَنِيٌّ وَقَالَ أَبُو عُبَيْدٍ إِذَا
لَقِحَتْ فَهِيَ خَلِفَةٌ فَلَا تَزَالُ خَلِفَةً إِلَى عَشَرَةِ أَشْهُرٍ
فَإِذَا بَلَغَتْ عَشَرَةَ أَشْهُرٍ فَهِيَ عُشَرَاءُ قَالَ أَبُو حَاتِمٍ
إِذَا أَلْقَى ثَنِيَّتَهُ فَهُوَ ثَنِيٌّ وَإِذَا أَلْقَى رَبَاعِيَتَهُ
فَهُوَ رَبَاعٌ
4555.
Dari Sa'id bin Musayyab, dari Zaid bin Tsabit tentang diyat pembunuhan
karena permusuhan (Mughallazhah)... kemudian menyebutkan hukum yang sama.
Abu Daud berkata, "Abu Ubaid -dan selainnya- berkata,
'Jika unta telah memasuki tahun keempat, ia disebut Hiq dan yang
betinanya disebut hiqqah, karena dapat dipakai untuk membawa barang dan
dapat ditunggangi. Jika masuk tahun kelima, ia disebut jaza'un dan
jaza'atun dan apabila masuk tahun keenam serta telah tumbuh gigi seri
disebut tsaniya dan tsaniyyah. Jika masuk tahun ketujuh disebut raba'
dan raba'iyyah dan jika masuk tahun kedelapan dan telah tumbuh gigi
setelah rabaiyyah disebut sadisun dan sadasun. Jika masuk tahun
kesembilan dan telah tanggal giginya namun tumbuh kembali, maka disebut
bazil dan jika masuk tahun kesepuluh. ia disebut mukhlif. Kemudian
setelahnya tidak mempunyai sebutan apa-apa, melainkan dapat disebut
dengan bazil 'Am (setahun) atau bazil 'Amain (dua tahun), mukhlif 'Am
(setahun) atau mukhlif 'Amain (dua tahun) dan seterusnya sesuai
bertambahnya tahun.
An-Nadhr bin Syumail berkata,
"Ibnatu Makhadh yaitu unta berusia satu tahun, ibnata labun usia dua
tahun, hiqqah usia tiga tahun, jaza 'ah usia empat tahun, tsaniyya usia
lima tahun, raba' usia enam tahun dan bazil usia delapan tahun.
Abu Daud berkata, "Abu Hatim dan Al Ashma'i berkata, ''Jaza 'ah itu berkaitan dengan waktu, bukan usia.
Abu Hatim berkata,
"Sebagian orang berkata, 'Jika telah tumbuh gigi geraham maka disebut
raba' dan jika telah tumbuh gigi seri, maka disebut tsaniyya. Abu Ubaid
berkata, "Jika telah dapat menerima benih sperma, maka disebut khaliqah,
dan tetap disebut dengan khaliqah sampai sepuluh bulan dan apabila
telah mencapai sepuluh bulan maka disebut dengan 'Usyara' Abu Hatim
berkata, "Jika telah tumbuh gigi seri maka disebut tsaniyya dan jika
telah tumbuh gigi geraham, maka disebut raba'.
Sanadnya Shahih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar